Selasa, 13 Maret 2012

WISATA KE MADURA? Jangan Lupa Berbelanja Batik

| I Made Asdhiana
 
KOMPAS.com - Bila Anda berwisata ke Madura maka sempatkanlah melihat-lihat atau berbelanja kain batik khas pulau garam ini. Sejak lama, batik Madura terkenal cantik dan indah. Kekhasan batik Madura terletak pada motif dan coraknya yang klasik dan kaya akan warna.
Nah, yang paling terkenal dari batik Madura adalah batik tulisnya. Di pulau terbesar di Jawa Timur ini banyak terdapat perajin batik. Dan, salah satu pusatnya terdapat di Desa Pakandangan Barat, Bluto, Sumenep. Hampir seluruh warga desa di sini menjadi perajin batik.
Sebagai pembatik, setiap warga rata-rata memiliki home industry di rumah masing-masing. Namun, dari sekian banyak pembatik, hanya ada dua juragan batik besar dari desa ini.
Salah satunya adalah Taufan Febriyanto, pemilik Sentra Batik Tulis Al-Barokah. Hampir sekitar 60 persen pembatik di Desa Pakandangan Barat menjual batiknya kepada Taufan. "Ada 63 pembatik yang bekerja sama dengan saya," kata Taufan.
Taufan sendiri tidak hanya menampung batik buatan warga desa. Di halaman rumahnya seluas 50 meter persegi, ia juga memproduksi batik-batik khas Madura.
Hampir semua batik yang mereka buat berupa batik tulis. Bagi mereka, batik tulis merupakan warisan nenek moyang yang harus dipertahankan. "Makanya kami tidak ada yang memproduksi batik cap," ujar Taufan.
Cukup banyak jenis dan motif batik yang mereka produksi. Di antaranya motif karpotean. Yakni, gambar dahan, daun, dan bunga dengan warna cerah, seperti hijau, merah, dan kuning. Selain itu, ada juga motif terang bulan dengan gambar kelopak-kelopak bunga yang didominasi warna cokelat kehitam-hitaman.
Selain kain, mereka juga memproduksi pakaian jadi, seperti kemeja dan gaun bermotif batik. Harga jualnya berbeda-beda tergantung motifnya. Kemeja batik bermotif kasar, misalnya, dijual Rp 40.000 per helai. "Sementara yang paling mahal mencapai Rp 750.000 lebih,” tandasnya.
Dalam sebulan, ia bisa menjual hingga 1.000 batik dengan omzet Rp 100 juta per bulan. Taufan mengaku, hanya mengambil laba 5 persen. Selebihnya habis untuk bahan produksi, termasuk kain dan pewarna batik.
Juragan batik lainnya dari desa ini adalah Achmad Zaini, pemilik Sentra Batik Tulis Melati. Ia juga memproduksi batik tulis. "Ada 41 pembatik yang menjadi mitra saya," ujarnya.
Harga yang dipatok Zaini mulai Rp 50.000 hingga Rp 450.000. Untuk model batik halus, dalam sebulan bisa terjual sekitar 20-50 lembar batik. Adapun batik kasar bisa mencapai 100-200 lembar. "Omzet saya antara Rp 20 juta sampai Rp 50 juta per bulan," ujarnya. (Eka Saputra)

1 komentar: